Maw Mblusuk?

HALO PEMBACA!

Selamat nyasar di blog Maw Mblusuk? !

Di blog ini Pembaca bisa menemukan lokasi-lokasi unik seputar aktivitas blusukan-ku ke sana-sini. Eh, kalau ada kritik, saran, atau pesan bilang-bilang aku yah! Nuwun!

Cari Artikel

LANGGANAN YUK!

Dengan berlangganan, Anda akan senantiasa mendapatkan update artikel terbaru blog ini.


Bisa berlangganan melalui e-mail.

oleh FeedBurner

Atau melalui RSS Feed berikut.
feeds.feedburner.com/mblusuk
Senin, 4 Februari 2013, 22:27 WIB

Sebetulnya, aku itu jarang motret dengan panjang fokal besar (istilah fotografinya: tele). Rata-rata, aku itu motret dengan panjang fokal di kisaran 18 sampai 24mm (istilahnya: wide).

 

Tapi perlu diakui, kadang-kadang aku merasa butuh lensa dengan panjang fokal besar. Terutama untuk situasi pemotretan di mana aku harus memotret obyek dari jarak yang cukup jauuuh. Seperti saat aku motret sendatari Ramayana atau siluet Borobudur di Punthuk Setumbu.

 

Jika lantas aku harus menebus lensa tele yang masih bau toko, aku merasa kurang pantas. Lha wong aku jarang motret dengan panjang fokal besar kok. Eh, tapi dilema yang seperti ini tidak sampai membuat galau lho ya, hahaha.

 

Lensa Bekas dari d’Camera Djokja

Ndilalah, di bulan November ini kawanku Danu yang mengelola toko d’Camera Djokja,  menggelar jajanan aksesori kamera second-hand. Salah satu yang menarik perhatianku adalah lensa Nikkor 55-200 DX VR yang ditawarkan seharga Rp1.650.000. Hmmm, yummy!

 

review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
Eng-ing-eng! Lensa bekas tele-ku yang pertama

 

Selang beberapa minggu, setelah arus kas mengalir lancar masuk dompet, lensa itu pun segera berpindah ke tanganku, hahaha.

 

Asal tahu saja, harga baru lensa ini sekitar Rp2,5 juta. Menurutku, harga yang ditawarkan cukup murah dan sepadan dengan kondisi lensa yang masih bersih, halus, dan mulus, hehehe. Sayangnya, belum sampai 24 jam, lensa ini sudah harus mencium kerasnya aspal Jl. Parangtritis. Doooh!

 

review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
Ini wujud "pantat" lensa dan ada... ehm sedikit kenang-kenangan dari Jl. Parangtritis

 

Fitur yang Ala Kadarnya

Kalau mengingat harga lensa yang sekitar Rp2,5 juta itu, sebetulnya kita nggak boleh berharap terlalu banyak dengan kualitas lensa ini. Seperti yang bisa dilihat, mount pada lensa terbuat dari plastik dan tanpa disertai karet pelindung. Badan lensa pun mayoritas terbuat dari plastik. Yah, walaupun sudah pernah terjatuh, kondisi fisiknya masih tetap kokoh kok. Eh, tapi bukan berarti lensa ini siap untuk dibanting-banting lho ya! >.<

 

Fitur yang cukup menarik dari lensa ini adalah VR (Vibration Reduction) untuk meredam getar, yang cukup membantu saat memotret di kondisi minim cahaya tanpa bantuan tripod. Eh ya, aku bilang cukup membantu karena ya... kadang-kadang efektif dan kadang-kadang tidak, hehehe.

 

Kinerja autofokusnya pun biasa saja. Tidak secepat dan sesunyi dua lensa Nikon lain yang kumiliki. Kadang kala autofokusnya sering “bingung”, terutama saat berada di panjang fokal 200mm. Kabar baiknya, bagian depan lensa tidak ikut berputar saat proses mencari fokus. Lensa ini memiliki diameter filter 52 mm.

 

review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
Yang dilingkari itu karena kalau sudah besar nggak ada yg namanya pemeriksaan kuku .

 

Kok Nggak Tajam ya?

Sebenarnya aku bukan orang yang terlalu mempermasalahkan resolusi alias ketajaman lensa. Namun, ketika aku mengamati obyek sepeda pada foto yang kujepret di bawah ini, aku merasa sepedanya itu buram dan sepertinya aku perlu mengecek ketajaman lensa ini.

 

review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
Sepedanya buram. Kenapa yah?

 

Aku pakai cara yang mudah saja. Aku jepret halaman iklan surat kabar menggunakan lensa ini di panjang fokal 55 mm dan 200 mm. Hanya dua panjang fokal itu, karena sesuai kebutuhanku lensa ini kan bakal aku gunakan di panjang 200 mm. Sedangkan untuk pilihan diafragmanya aku menggunakan bukaan f/5.6, f/8, dan f/11.

 

Bukaan f/5.6, f/8, dan f/11

Ini sih seleraku saja sebenarnya. Kalau memotret, aku seringnya berkutat dengan tiga pilihan bukaan diafragma itu. Bukaan f/5.6 kalau obyeknya hanya satu, f/8 kalau memotret kelompok orang, dan f/11 kalau memotret pemandangan alam.

 

Uji Ketajaman di 55 mm

review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
Dipotret dengan panjang fokal 55 mm.

 

Daerah di bagian tengah foto:

review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
55 mm @ f/5.6
review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
55 mm @ f/8
review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
55 mm @ f/11

Daerah di bagian pinggir foto:

review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
55 mm @ f/5.6
review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
55 mm @ f/8
review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
55 mm @ f/11

 

Uji Ketajaman di 200 mm

review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
Dipotret dengan panjang fokal 200 mm.

 

Daerah di bagian tengah foto:

review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
200 mm @ f/5.6
review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
200 mm @ f/8
review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
200 mm @ f/11

Daerah di bagian pinggir foto:

review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
200 mm @ f/5.6
review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
200 mm @ f/8
review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
200 mm @ f/11

 

Hasil Uji Ketajaman

Sesuai dugaanku, di panjang fokal 200 mm lensa ini mengalami penurunan ketajaman. Bahkan, ketajaman tertinggi diperoleh pada bukaan diafragma f/11. Sedangkan ketajaman sudut-sudut foto memang nampak kurang tajam jika dibandingkan di bagian tengah foto.

 

Aku nggak terlalu yakin apakah uji ketajaman ini menunjukkan karakteristik sesungguhnya dari lensa ini. Mengingat, yah... lensa ini kan second-hand dan sudah pernah terjatuh, hehehe.

 

Sebagai perbandingan tambahan, berikut aku sertakan foto yang dijepret dengan lensa 18-135 DX dan 55-200 DX VR. Kedua foto dijepret pada panjang fokal 200 mm dan bukaan f/5.6 dalam ukuran 2,4 MP, kemudian di-crop bagian tengah foto dengan ukuran 420 px × 320 px.

 

review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
Seperti biasa, lensa 18-135 DX menghasilkan foto yang luar biasa tajam.

 

review lensa nikkor 55-200 DX VR tahun 2013
Seperti hasil uji sebelumnya, foto terlihat buram.

 

Jadi, Pendapat tentang Lensa ini adalah ...

Mari garuk-garuk kepala dulu, hahaha.

 

Dengan ketajaman optimal di bukaan f/11 pada 200 mm, penggunaan lensa ini terbatas di kondisi yang banyak cahaya. Prediksiku, f/11 pada 200 mm di ISO 100 dalam kondisi pencahayaan yang biasa membutuhkan kecepatan 1/2 detik. Yang seperti ini sangat susah untuk menjaga foto tidak buram karena goncangan tangan dan sulit juga untuk membekukan momen.

 

Padahal aku memprediksi lensa ini bakal membantuku memotret di bukaan f/5.6 di 200 mm. Yah memang membantu sih, walaupun hanya sedikit, hahaha. Mungkin sebaiknya kita tidak berharap lebih pada lensa kelas entry-level seperti ini.

 

Jadi, jika Pembaca ingin lensa tele yang powerful, lupakan lensa 55-200mm VR ini (dan juga 55-300mm VR) dan menabunglah untuk menebus lensa 70-300mm VR seharga Rp5 juta atau mungkin 70-200mm VR seharga 24 juta ?

 

Kecuali... jika ada yang menawarkan lensa ini second-hand dengan kualitas bagus dan harga yang lumayan miring, ya... bolehlah dibeli, hahaha.


NIMBRUNG DI SINI

UPS! Anda harus mengaktifkan Javascript untuk bisa mengirim komentar!
  • ANNOSMILE
    avatar 5049
    ANNOSMILE #Rabu, 6 Feb 2013, 18:38 WIB
    menurutku belilah suseai dengan kebutuhan dan dana..kalau disuruh milih aku
    mending beli yg sigma apo dg 70-300 meskipun minus pereduksi getaran hehe
    sesuk nek sugih duwid yo tuku sing f/2.8 sisan
  • CAHYO
    avatar 6103
    CAHYO #Minggu, 25 Mei 2014, 18:30 WIB
    Harga miring...? Tergantung cara pegang kameranya tooo... :P
    Megang kameranya miring aja, biar lensanya jatoh terus harganya jadi miring, hahaha #ups
  • ANTO
    avatar 9166
    ANTO #Kamis, 28 Jan 2016, 10:56 WIB
    Kalau pakai lensa yang bagus, tapi kameranya masih yang D3100 apakah hasilnya juga
    memuaskan ya gan ?
    Kamera nggak berpengaruh pada kualitas foto dari lensa. Kalaupun kamera mempengaruhi kualitas foto itu hanya ketika pakai format JPG. Karena kamera secara otomatis menkonversi format RAW jadi format JPG dengan menerapkan olah digital bawaan kamera.
  • PANJOEL_AJJAH
    avatar 9696
    PANJOEL_AJJAH #Minggu, 15 Mei 2016, 13:26 WIB
    wah, rencananya aq yo mau beli lensa iki mas.. cuman seh galau soalnya sudah ad yang versi VR 2. tp kelemahan yg versi VR2 ring fokusnya lebih kecil.. trus melu muter saat deteksi fokus. keunggulanya ukurane lebih simple sama kualitas optik yg lebih bagus (jarene lho ya) wkwkwkwkwkkwk..
  • BUDI
    avatar 9834
    BUDI #Rabu, 22 Jun 2016, 20:33 WIB
    kemaren sempet pinjem lensa ini punya temen buat fotho modeling dan fashion fotho tak
    pasang di D7000. setelah lihat hasilnya ko sedikit beda sama reviewnya ya? menurut
    saya, ini lensa :
    1. karakteristic tone yang dihasilkan bisa padet.
    2. tajem di f 5,6 - 8
    3. bisa bokeh juga di FL 150-200mm f 5,6 (actual DOF 80cm)
    nah loh... jadi beli lensa ini ga ya?
  • ANDRE
    avatar 10885
    ANDRE #Rabu, 7 Jun 2017, 11:39 WIB
    Mas., mau tanya software yang bagus untuk pengolahan format RAW apa ya ?
    boleh dicoba Adobe Lightroom. Kalau software gratisan nyobain RawTherapee juga bagus kok.