Street Hunt: Kotagede

Sejak tahun 1930-an, Kotagede ini dikenal sebagai kota perak. Nggak salah sih, karena di sepanjang jalan di Kotagede dihiasi oleh berbagai macam toko kerajinan perak. Sewaktu belum krisis moneter tahun 1998 silam, kerajinan emas putih ini banyak diminati oleh wisatawan bahkan warga lokal pada umumnya. Namun saat ini kondisi tersebut berubah drastis, karena bahan baku perak harus ditebus dengan harga tinggi.

Nikon D40X dan Lensa AF-S DX Nikkor 18-55mm II f/3.5-5.6 IF ED
Lihat pagar rumah, menggelembung, tandanya lensa Nikon ini punya "penyakit" distorsi.
Bicara soal sejarah Kotagede juga nggak lepas dari kisah berdirinya Kesultanan Mataram yang merupakan akar dari Keraton Yogyakarta. Alkisah pada tahun 1546, tersebutlah seorang pria bernama Ki Ageng Pemanahan yang merupakan lurah wiratamtama di Pajang. Salah satu kesultanan besar pada masa itu adalah Kesultanan Demak, yang mana masih dipenuhi intrik politik perebutan kekuasaan (tentunya ada yang dibunuh dan terbunuh :). Ceritanya, Ki Ageng Pemanahan ini berhasil menyelamatkan Hadiwijaya (bupati Pajang) dari jebakan Sunan Kudus. Dengan intrik politik pula, Ki Ageng Pemanahan dikabarkan berhasil membunuh Arya Penangsang (bupati Jipang Panolan) yang merupakan musuh dari Hadiwijaya. Pokoknya, setelah segala macam intrik politik bunuh-membunuh rebutan kekuasaan bekas Kesultanan Demak, akhirnya Ki Ageng Pemanahan diberikan hadiah tanah oleh Hadiwijaya berupa hutan lebat bernama Alas Mentaok. Di Alas Mentaok itulah pada tahun 1556, Ki Ageng Pemanahan mendirikan desa Mataram. Beliau memimpin desa itu sampai pada ajalnya di tahun 1584 dan digantikan oleh putra beliau, Sutawijaya, yang kelak berganti nama menjadi Panembahan Senopati, raja pertama dari Kesultanan Mataram.
Asal-Mula Nama Kotagede...
Karena di tengah kota pusat Kesultanan Mataram itu ada pasar yang bernama Pasar Gede yang hari pasarannya adalah Legi.
Karena di tengah kota pusat Kesultanan Mataram itu ada pasar yang bernama Pasar Gede yang hari pasarannya adalah Legi.
Moral Sejarah...
Mau Islam kek, Katolik kek, Kristen, Hindu, atau Buddha kalau sudah ketemu dengan namanya nafsu perebutan kekuasaan (atas dasar apapun)...kejadian guling-menggulingkan, fitnah-memfintah, dan bunuh-membunuh bisa terjadi.
Mau Islam kek, Katolik kek, Kristen, Hindu, atau Buddha kalau sudah ketemu dengan namanya nafsu perebutan kekuasaan (atas dasar apapun)...kejadian guling-menggulingkan, fitnah-memfintah, dan bunuh-membunuh bisa terjadi.

Nikon D40X dan Lensa AF-S DX Nikkor 18-55mm II f/3.5-5.6 IF ED
Aktivitas warga di Kotagede cocok kalau diabadikan secara "klasik" menggunakan format hitam-putih.

Suasana di Masjid Agung Kotagede yang syahdu.

Masjid Perak yang kontroversial, rata dengan tanah!

Sisa-sisa tembok keraton di tengah pemukiman.

Cendol mewah yang murah-meriah!
Dari sejarah yang mewarnai Kotagede dan dari beberapa warga yang kutemui, terbesit kisah memilukan tentang Kotagede yang mulai kehilangan "ruh"-nya. Entah apakah itu disebabkan modernisasi, krisis ekonomi, ataupun pengaruh Muhammadiyah. Tapi yang jelas, Kotagede penuh dengan benda cagar budaya, hasil karya pendahulu kita di masa lalu dimana kita dapat belajar banyak dari peninggalan-peninggalan tersebut. Tentunya besar harapanku, agar kelak generasi setelahku bisa menikmati Kotagede seperti saat aku kemari hari ini. Walaupun Kotagede kini tidak lagi semarak oleh rumah-rumah Joglo yang telah luluh-lantah akibat Gempa Bumi DIY-Jateng tahun 2006 silam.













NIMBRUNG YUK!
Tapi tulisanmu kali ini agak "ga adil", wis. Kamu bilang di paragraf akhir kalo salah satu penyebab Kotagede kehilangan "ruh" adalah pengaruh Muhammadiyah. Padahal kalo aku baca blog yang membahas tt masjid perak itu, kayae Muhammadiyah punya banyak peninggalan bersejarah di Kotagede, antara lain ya masjid perak itu. Dan masalah robohnya masjid itu juga bukan 100 salah Muhammadiyah, tapi "oknum" takmir masjid sendiri.
Bukannya aku orang Muhammadiyah atau apa, tapi masalahnya kamu "nuduh" tanpa njelasin lebih lanjut. Akan sangat membingungkan buat orang kaya aku yang belum pernah ke sana dan liat yang sebenarnya. ^-^v
Saya juga mengawali kalimat itu dengan kata Entah apakah itu disebabkan... yang berarti masih menutup kemungkinan hal yang sebutkan diatas untuk tidak terjadi. Karena toh saya tidak mengawali kalimat dengan Semua itu disebabkan oleh...
lumayan pelepas rindu.. dulu saya tinggal 10 taun di kota gede
SD di gedong kuning..
skali lagi thank u :)
eh, udah nyoba es di Warung Sido Semi, belum, kang? nuansanya jadul banget!!
beberapa postinganku soal kota gede ada di sini: http://jengjeng.matriphe.com/index.php/tag/kotagede
minal aidin wal faidzin wis..
btw lensa nya ternyata ada distorsinya yah? wah syg yah hixhix..
Minal Aidzin wal Faidzin juga Dim. Itu lensa emang ada distorsinya, tapi wajar kok.